Showing posts with label MY TRIP REPORT. Show all posts
Showing posts with label MY TRIP REPORT. Show all posts

Sunday, April 24, 2016

Menikmati Penerbangan Malam | Garuda Indonesia Trip Report

Garuda Indonesia Boeing 737-800 PK-GFQ

Bismillah
Dear Readers! Thanks for stopping by :-)
    Hari ini saya akan menulis pengalaman saya terbang bersama Garuda Indonesia Boeing 737-800. Rutenya? Tentu saja rute biasa blog ini: SOC-CGK, dan kelasnya? Tentu saja kelas ekonomi hahahaha...

    Yang jadi spesial pada penerbangan kali ini adalah...penerbangan malam! Sudah lama saya tidak melakukan penerbangan malam. Yang membuat penerbangan malam istimewa adalah...pemandangan ratusan bola lampu yang berpendar dari atas langit saat pesawat lepas landas dan mendarat. What a beautiful scenery!

    Anyway, perjalanan kita kali ini bermula dari sebuah bandara internasional yang terletak di Boyolali, Bandar Udara Internasional Adisoemarmo Solo. And don't forget the Amsterdam-inspired sign:

Adisoemarmo Intl Airport Sign
    Karena saya sudah web check-in, saya langsung naik ke airside. Tapi sebelumnya saya iseng mencetak boarding pass di konter check-in yang lenggang, maklum saya sudah lama tidak naik Garuda Indonesia dan saya belum memiliki boarding pass baru GA dengan lambang Skyteam tercantum padanya. Segera setelah saya mencetak boarding pass, saya naik ke airside.

Printout e-ticket dan boarding pass Garuda Indonesia

    By the way, setelah web check-in di situs Garuda, saya mengunduh boarding pass elektronik dan menyimpannya di aplikasi Passbook (sekarang Wallet) pada smartphone saya. Dan pengalaman saya, boarding pass elektronik ini berhasil dipindai saat pemeriksaan airport tax di bandara Adisoemarmo maupun saat boarding. Saya kira boarding pass elektronik ini sangat bagus untuk menghemat kertas sekali pakai yang digunakan untuk boarding pass reguler, sekaligus juga mempersingkat antrian di konter check-in. Namun sayangnya sepertinya boarding pass elektronik ini kurang disosialisasikan oleh Garuda Indonesia sehingga tak banyak yang tahu akan keberadaannya.


Tangkapan layar boarding pass elektronik Garuda Indonesia

    Setelah melewati security check, saya masuk ke ruang tunggu keberangkatan domestik Bandara Adiseomarmo Surakarta yang nampak jauh lebih luas dan lapang setelah partisi-partisi kaca dihilangkan. Saat itu ada dua pesawat yang sedang disiapkan untuk berangkat, Batik Air Boeing 737-800 tujuan Jakarta Halim Perdana Kusuma (HLP) dan Lion Air Boeing 737-900ER tujuan Jakarta Soekarno-Hatta (CGK).

Batik Air Boeing 737-800 di Bandara Adisoemarmo Solo

Lion Air Boeing 737-900ER di Bandara Adisoemarmo Solo

    Beberapa saat kemudian, penumpang Lion Air dipersilahkan untuk naik ke pesawat melalui gate 3. Setelah semua penumpang naik pesawat, pesawat Lion Air Boeing 738-900ER tujuan Jakarta CGK pun diizinkan pushback dan akhirnya lepas landas. Setelah Lion Air tujuan Jakarta CGK lepas landas, datanglah Lion Air Boeing 737-900ER lainnya, kali ini dengan livery spesial 90th Boeing 737 delivered to Lion Air di bagian vertical stabilizer alias ekornya. Karena garbarata gate 1 dan 2 masih sibuk melayani pesawat Batik Air, akhirnya Lion Air tujuan Surabaya parkir di garbarata gate 3 dan 4. Pheww, pertanda bakal pindah gate nih, batin saya. Dan akhirnya Batik Air Boeing 737-800 tujuan Jakarta HLP pun lepas landas meninggalkan tanah Boyolali menuju Jakarta HLP ketika langit mulai gelap. Setelah Batik Air lepas landas, datanglah pesawat yang saya tunggu-tunggu: Garuda Indonesia Boeing 737-800 PK-GFQ yang akan membawa saya kembali ke Jakarta setelah liburan singkat di Kota Solo.

    Dan benar saja sesuai dugaan saya... Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800 yang akan saya tumpangi parkir di garbarata gate 1 dan 2 yang sebelumnya digunakan oleh Batik Air karena garbarata gate 3 dan 4 masih sibuk melayani Lion Air tujuan Solo. Pengumuman perpindahan gate segera berkumandang di ruang tunggu keberangkatan domestik Bandara Adisoemarmo Solo. Para penumpang Garuda Indonesia pun segera bergegas pindah ke ruang tunggu gate 1 dan 2 yang dipisahkan dengan partisi kaca dari ruang tunggu besar. 

     Setelah seluruh penumpang tujuan Solo turun dari pesawat, pesawat dipersiapkan kembali untuk keberangkatan ke Jakarta. Petugas ground officer Garuda sudah siap di meja di depan gate. Beberapa petugas ground officer tampak mondar-mandir sembari membawa walky-talky dan keluar-masuk gate. Setelah pesawat siap, penumpang pun diizinkan untuk masuk ke dalam pesawat (boarding). Urutan boarding dimulai dari penumpang yang menggunakan kursi roda, penumpang lansia, penumpang yang membawa anak-anak dan kemudian penumpang lainnya. Namun saya tidak melihat ada jalur khusus untuk penumpang GarudaMiles Gold dan Platinum serta pemegang frequent flyer dengan tier SkyTeam Elite Plus alias jalur khusus SkyPriority. Saya ikut serta dalam antrian penumpang yang hendak boarding tak lupa mempersiapkan boarding pass elektronik di smartphone saya dan KTP. Setelah diperiksa, sayapun bergegas menuju tumpangan saya malam itu: Garuda Indonesia Boeing 737-800 PK-GFQ.


Good night, PK-GFQ!

Stiker lambang SkyTeam menyambut di sebelah pintu L1
    Seperti biasa, setelah masuk melalui pintu L1, terdapat tray koran yang tersedia di sebelah kanan pintu L1. Pak purser beserta seorang awak kabin wanita berkebaya oranye menyambut setiap penumpang yang masuk dengan ramah. Saya berusaha membalas sambutan mereka dengan jawaban "Selamat malam". Dan saya melewati aisle menuju kelas ekonomi, tentu saja dengan melewati kelas bisnis, Sejujurnya, sudah berlalu lima tahun sejak terakhir kali saya duduk di kursi merah ini. Bagi yang tertarik membacanya bisa mengaksesnya di sini.

Garuda Indonesia J class seats on Boeing 737-800

    Akhirnya saya tiba di kursi saya, 39K. Window seat!

Garuda Indonesia Y Class Seat on Boeing 737-800
    Setelah semua penumpang naik, awak kabin yang bertugas di kelas ekonomi segera membagikan permen Alpenliebe aneka rasa dengan branding Garuda Indonesia. Menurut awak kabin yang bertugas, penerbangan malam itu 100% penuh, dan saya melihat ada petugas catering membawa nampan berisi beberapa snack box menuju galley belakang, mungkin untuk penumpang yang membeli tiket saat last minute?

    Pak purser melakukan passenger announcement seperti biasa, diikuti oleh pemutaran video prosedur keselamatan. Lampu pesawat diredupkan, dan akhirnya pesawat yang saya tumpangi lepas landas menuju Jakarta!


Welcome screen baru di IFE Garuda Indonesia
    Salah satu hal yang saya sukai dari hiburan dalam pesawat (IFE) Garuda Indonesia adalah, welcome screen nya yang menampilkan berbagai keindahan alam Indonesia. Sungguh nikmat Allah yang sangat besar bagi kita, memiliki tanah air yang indah dan kaya raya.

    Setelah pesawat berada pada ketinggian jelajah yang dikehendaki, saya segera mengecek isi kantong kursi di hadapan saya. Tersedia Majalah "Colours", panduan IFE "Stars", kartu petunjuk keselamatan dan kantong mabuk udara (airsickness bag). Absen pada penerbangan saya kali itu inflight shopping guide "Arcade". Atau mungkin panduan belanja Arcade sengaja tidak diletakkan di kursi mengingat penerbangan yang pendek?


Seat pocket contents on Garuda Indonesia Boeing 737-800
    Malam itu ada 4 awak kabin wanita yang bertugas di kabin kelas ekonomi, dua orang awak kabin mengenakan kebaya toska dan dua lainnya mengenakan kebaya oranye. Para awak kabin yang bertugas malam itu gesit dan cekatan melayani di kabin yang penuh penumpang, dan berpacu dengan waktu penerbangan yang pendek.

Garuda Indonesia Snack Box for short haul flight
    Pada penerbangan malam itu, masing-masing penumpang kelas ekonomi mendapatkan snack box berisi satu buah roti, satu buah sus coklat, satu botol air minum serta selembar tisu basah. Saat drink service, saya memilih jus jambu dengan es favorit saya.

    Tak terasa, pesawat semakin mendekati Jakarta. Para awak kabin mengumpulkan sampah yang masih tersisa. Setelah melakukan pengecekan kabin, lampu pesawat kembali diredupkan dan pesawat siap mendarat! Dan inilah momen-momen favorit saya, ketika ribuan bola lampu di darat berkelap-kelip bak kunang-kunang saat pesawat hendak mendarat. Simply awesome.


Lights on Jakarta bay 

Approaching CGK Airport
    Dan...alhamdulillah, dengan izin Allah pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang terletak di Kota Tangerang. Pesawat mendarat di landas pacu terminal 1, sehingga pesawat harus taxi lumayan jauh dari terminal 1 menuju terminal 2 dimana terminal Garuda Indonesia berada. FYI, IFE selama penerbangan saya set sebagai voyager atau peta yang menunjukkan keberadaan pesawat dan informasi penerbangan.


We've reached Jakarta!

    Dan akhirnya pesawat yang saya tumpangi parkir di remote area Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

Parkir di remote area
    Setelah penumpang kelas bisnis turun, barulah kami penumpang kelas ekonomi diizinkan turun. Seperti biasa, Pak Purser didampingi awak kabin yang bertugas di kelas bisnis mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan kami turun. Dan saya berhasil menangkap gambar si cantik Boeing 737-800 PK-GFQ dari tangga yang terbuka. Inilah enaknya boarding dan disembark menggunakan tangga, bisa bebas memotret badan pesawat, tidak seperti garbarata yang menghalangi pandangan kita dari pesawat.

Garuda Indonesia Boeing 737-800 PK-GFQ
    Oke, inilah akhir dari perjumpaan kita pada posting kali ini. Semoga trip report ini dapat memberi Anda gambaran akan layanan Garuda Indonesia pada kelas ekonomi penerbangan pendek. Semoga suatu saat saya bisa menjajal pesawat lainnya milik Garuda Indonesia seperti Boeing 777-300ER dan Airbus A330-300X. Terima kasih sudah mampir ke blog sederhana saya, have a nice day!



Tuesday, August 19, 2014

Mengunjungi Pesawat Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT di Museum Transportasi TMII

Pesawat Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT di Museum Transportasi TMII
Finally! Sefikit impian saya pada posting Sejarah Dirgantara Indonesia yang Malang terwujud!

     Pesawat DC-9-32 Garuda Indonesia PK-GNT di Museum Transportasi TMII yang awalnya nampak muram dan dimakan zaman kini kembali cerah ceria. Pesawat tersebut direstorasi atau di refurbished baik eksterior maupun interiornya, plus diberi atap agar terhindung dari cuaca dan iklim tropis yang lembab.

    Terakhir kali saya mengunjungi pesawat ini pada awal Februari 2013 silam. Saat itu pesawat ditutup (sebab hanya buka saat weekend Sabtu dan Ahad), dan saya hanya bisa mengamati makhluk malang ini dari luar. Saat itu kondisi eksterior pesawat sangat parah, dengan badan yang kusam penuh bekas aliran air hujan. 

    Sebelumnya komunitas pecinta dunia penerbangan Indoflyer pernah mengadakan kegiatan mencuci pesawat ini pada tahun 2009, dan petugas museum sendiri juga rutin "memandikan" pesawat dengan air dan sabun (yang tentunya tidak bisa menghilangkan kotoran yang sudah mengerak dan menempel di badan pesawat). Pesawat ini merupakan salah satu magnet yang menarik pengunjung untuk mengunjungi Museum Transportasi TMII. Akhirnya pada akhir tahun 2013, Garuda Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan merestorasi pesawat ini dan memberinya atap agar terlindung dari cuaca.

    Saya sudah beberapa kali blogwalking membaca-baca blog yang mengulas kunjungan ke static display pesawat Garuda Indonesia DC-9 ini, namun saya belum merasa puas hingga dapat mengunjungi langsung pesawat ini dan melihat detailnya dengan jelas (terakhir kali saya masuk ke pesawat ini tahun 2005 saat berusia 10 tahun dan ajaibnya tidak ingat sama sekali detailnya). Alhamdulillah, pada tanggal 16 Agustus 2014 saya berkesempatan untuk mengunjungi pesawat ini. Seperti apa tampilannya? Yuk, kita simak ;)

MUSEUM TRANSPORTASI TMII

Pintu Gerbang Museum Transportasi TMII
  Harga tiket masuk: Rp 2.000/orang  

   Awal perkenalan saya dengan Museum Trasnportasi TMII pada tahun 2003, saat itu saya beserta kawan-kawan murid kelas 3 SDI Al-Azhar 17 Bintaro melaksanakan field trip ke TMII, dan salah satu tujuanya adalah Museum Transportasi. Dan bagi saya (saat itu saya sudah cinta dengan dunia penerbangan dan transportasi), Museum Transportasi adalah surga! Saat itu mata kecil saya terbelalak melihat koleksi yang "Amazing" dimata saya. Berbagai miniatur pesawat Indonesia maupun Internasional, tiket-tiket Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara dari masa ke masa, seragam-seragam awak kokpit dan awak kabin dari masa ke masa, bus tingkat, bus turis, kereta api presiden, serta beragam koleksi lainnya benar-benar membuat saya terkesima dan berazam dalam hati "saya harus mengunjungi museum ini lagi lain waktu". Kunjungan tersebut ditutup dengan menaiki kereta tua dengan dinding kayu dan jendela kayu (entah berbahan bakar diesel atau batu bara, saya lupa) bersama kawan-kawan seangkatan. Saat kami akan keluar dari gerbang, saya dan salah seorang kawan saya melihat sosok pesawat Garuda Indonesia yang dengan gagah berdiri dan sangat tertarik untuk mengunjunginya, namun kami segera dicegah oleh guru pembimbing dan segera kembali ke rombongan. 

    Akhirnya pada tahun 2005, saya berhasil mengunjungi kembali Museum Transportasi TMII dan berkesempatan masuk kedalam pesawat Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT. Tidak banyak yang saya ingat saat itu (atau bahkan dapat saya katakan bahwa ingatan saya terhapus sama sekali). Tidak ada kenangan dari kunjungan saya saat itu kecuali selembar tiket yang masih saya simpan hingga kini. Tiket masuk pesawat Garuda yang menyerupai boarding pass Garuda Indonesia saat itu. 

Atas: Boarding Pass Garuda Indonesia asli (2002) Bawah: Tiket masuk pesawat Garuda Museum Transportasi TMII (2005)
    Saat ini beberapa bagian Museum Transportasi sudah direnovasi dan dilengkapi dengan koleksi baru seperti armada pertama Taxi Blue Bird dan Silver Bird dan berbagai koleksi baru Garuda Indonesia di Anjungan Udara. Museum Transportasi sendiri sebenarnya sangat menarik, dengan arsitektur bangunan yang unik dan koleksi menarik, sayangnya sepertinya museum ini kurang perawatan, atau perawatan yang ada kurang memadai karena terbentur biaya, masalah klasik ala Indonesia. Salah satu kenangan masa kecil saya yang hilang dari museum ini adalah kereta api tua yang mengelilingi museum ini, kini tak lagi beroperasi.

Berikut beberapa hasil tangkapan saya di Museum Transportasi:

Museum Transportasi TMII
Kereta Poliklinik

Kereta Presiden RI Ir Soekarno

Interior Kereta Perjuangan


Pintu masuk ke Anjungan Utama Museum Transportasi
Pemandangan Museum Transportasi dari atas Anjungan
Kaca patri di anjungan utama Museum Transportasi yang sudah usang


PESAWAT GARUDA INDONESIA DC-9-32 PK-GNT

Harga tiket masuk: Rp 3.000/orang

    Oke, sekarang saatnya kita "melihat lebih dekat" pesawat Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT. Diproduksi oleh Mc-Donell-Douglas Amerika Serikat dan terbang pertama kali pada tahun 1979 dengan Garuda Indonesia dan diberi nosename "Be Bai". Pesawat ini dioperasikan oleh Merpati Nusantara sejak 1993 sebelum akhirnya mengalami kecelakaan di Denpasar, Bali tahun 1993, dan akhirnya disimpan di Museum Transportasi TMII sejak tahun 1998.

Pesawat Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT tahun 1981 di Bandar Kemayoran, foto oleh Arno Janssen dari aviation-safety.net
    Pada awalnya, pesawat ini memakai livery lama Garuda Indonesia yang digunakan pada tahun 1985-2009.

Pesawat Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT sebelum direstorasi
   Saat ini, pesawat Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT menggunakan livey terbaru Garuda Indonesia, yaitu Nature's Wings, baik eksterior maupun interior kabin. Padahal saya kira, ketika pesawat tersebut direstorasi, liverynya akan dikembalikan ke livery semula, yaitu "Tangerine" Garuda Indonesia yang digunakan sampai tahun 1985. Seperti apakah penampakannya kini setelah direstorasi? Mari kita lihat...

Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT nampak dari udara
Spesifikasi pesawat
Bagian belakang PK-GNT dengan livery Nature's Wings yang anehnya, mesin jet juga kena
 Sebagai perbandingan, sebelumnya...


T-Tail
Tangga menuju pintu bagian belakang
Lebih dekat lagi dengan pintu belakang DC-9

Logo baru Garuda Indonesia plus pipa AC (CMIIW)

BOARDING (CERITANYA)

    Akhirnya setelah puas melihat bagian luar pesawat, saatnya boarding! Ada dua orang petugas yang menunggu di depan tangga dan mengambil tiket kami. Alas kaki wajib dilepas, sehingga kami masuk pesawat dengan "nyeker"

Garuda PK-GNT dengan wajah yang "fresh" plus mesin jet yang sepertinya juga direstorasi
Sebagai bahan perbandingan sebelum direstorasi...



Identitas DC-9-32 PK-GNT (maaf blur)
    Mauk kedalam kabin, nampak sebuah intercom dan panel pengaturan kabin di sebelah kiri, lavatory alias kamar mandi di sebelah kanan dan galley kecil di depan saya. Partisi kabin semua telah diganti dari sebelumnya berwarna biru muda bermotif menjadi motif anyaman seperti motif partisi kabin kelas ekonomi Garuda Indonesia sekarang.


Intercom dan control panel jadoel

Front Galley Garuda DC-9 PK-GNT
CABIN

    Kabin pesawat Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT telah direfurbish dan diperbaharui, sehingga hilanglah kesan kumuh dan kotor. Dinding partisi kabin bermotif anyaman batik selayaknya kabin kelas ekonomi Garuda terbaru, AC terasa dingin, TV kuno di bagian depan telah diganti dengan LCD screen layar datar dan ada beberapa pewangi ruangan bermerek St*lla tergantung di dalam kabin. Seat dalam pesawat telah dilepas, menyisakan 3 row kursi di kabin bagian depan dengan arrangement 2-2 dan ada 2 buah seat di pojok kabin bagian belakang. 12 seat di kabin bagian depan telah diganti kulit joknya, row pertama berwarna orange, row kedua berwarna biru serta row ketiga berwarna coklat seperti kursi kelas ekonomi Garuda saat ini. Seatbelt pun telah diganti dengan seatbelt berlogo Garuda Indonesia (tahun 1985-2009) yang mana sebelumnya seatbelt berlambang Garuda jadoel. Berikut beberapa penampakan kabin:

New LCD TV dan plakat "Best Regional Airline 2012 by Skytrax"
Replika Skytrax Award 2012 : Garuda Indonesia Best Regional Airline 2012
Fasten your seatbelt plesae :)
Even Mr. Emirsyah Satar welcoming us onboard! (LCD screen baru)

Row 1: Orange, melambangkan seat Garuda waktu tangerine livery *maybe
Row 2: Blue, melambangkan seat Garuda waktu bertransformasi dengan blue livery *maybe
Last row: Brown seat, melambangkan seat Garuda masa kini *maybe



Hve you ever seen Stella onboard a plane?
Lubang AC yang menghembuskan udara segar dalam kabin
Overhead panel dan luggage bin jadoel
Onboard Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT (view from rear galley)
LAVATORY

    Terdapat tiga buah lavatory alias kamar mandi dalam pesawat ini, dari ketiganya hanya terdapat satu lavatory yang bisa dibuka di galley (dapur) belakang. Namun isinya sudah diubah sehingga hanya lavatory tersebut menjadi ruangan kosong.

Pintu lavatory

Dalaman lavatory


GALLEY

    Galley adalah nama lain dari dapur tempat para awak kabin menyiapkan makanan untuk penumpang dan kru selama penerbangan. Dalam pesawat DC-9 Garuda ini, terdapat 2 galley sebagaimana layaknya pesawat narrow body lainnya, satu di depan dan satu di belakang. Berikut beberapa gambar yang saya abadikan.


Front galley dan exit door R1 yang unyu

Front Galley

Rear Galley, lavatory dan exit door 

Rear Galley
FLIGHT DECK/ COCKPIT

    Saya termasuk "awam" soal flight deck atau cockpit, plus saya harus "baby sitting" adik dan sepupu saya saat di kokpit, sehingga tak banyak yang bisa saya ungkapkan soal cockpit visit DC-9 ini. Yang jelas, kokpit DC-9 sangat terasa "classic" dan "retro" nya, dengan dashboard yang dipenuhi dengan jarum dimana-mana, kontras dengan kokpit pesawat masa kini yang penuh layar (glass cockpit).

Pintu kokpit

Jumpseat







VERDICT


    Akhirnya, terjawablah rasa penasaran saya akan static display Garuda Indonesia DC-9-32 PK-GNT di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Senagai pecinta dunia penerbangan, saya sangat mengapresiasi usaha Garuda Indonesia dan Kementerian Perhubungan untuk merestorasi pesawat klasik ini. Dan menurut saya, nasib DC-9 PK-GNT ini sangat beruntung, setelah insiden di Denpasar Bali yang menyebabkan kerusakan struktural, pesawat ini akhirnya menghabiskan usia dengan menjadi static display, berbeda dengan kebanyakan pesawat yang rusak akibat insiden atau telah mencapai usia uzur yang akhirnya di scrap dan dijadikan besi tua, atau menjadi sendok, garpu dan panci. Walaupun saya lebih berharap agar DC-9 ini dikembalikan ke livery aslinya yang berwarna tangerine dengan interior Garuda tangerine pula.

    Setelah restorasi, persawat ini menjadi "kinclong" dan bersih kembali. Semoga kondisi ini tetap dipertahankan sampai masa depan (mengingat kebiasaan masyarakat Indonesia yang kurang beradab dalam menjaga lingkungan). Harapan saya, semoga Garuda Indonesia dan Kementerian Perhubungan dapat merestorasi pesawat Garuda lainnya yang bernilai historis, seperti DC-10 (widebody pertama Garuda Indonesia untuk penerbangan jarak jauh), Airbus A300-B4 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit) hasil ide Bapak Wiweko Dirut Garuda saat itu, Fokker 28 (Garuda adalah pengguna Fokker 28 terbesar di dunia), serta Boeing 737 seri original atau classic (pesawat narrow body terbanyak di Indonesia). Semoga suatu saat harapan saya dapat terwujud! Terima kasih semua :)

Find me on Instagram: @laudyablue

Incoming search terms:
Garuda Indonesia, Garuda DC-9, Pesawat Garuda TMII, Pesawat Garuda Museum Transportasi TMII, Garuda DC-9-32 PK-GNT, Museum Transportasi TMII