Wednesday, February 6, 2013

Sejarah Dirgantara Indonesia yang Malang

Gerbang Museum Transportasi TMII

Petunjuk Arah Museum Transportasi TMII
Pesawat Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT Museum transportasi TMII


Museum Transportasi TMII

Nomor registrasi pesawat Garuda DC-9: PK-GNT

Livery lama Garuda Indonesia dan T-Tail

Mesin jet Pratt & Whitney Aircraft PWA JT8D-9A


Pintu di bagian belakang pesawat Garuda DC-9

Sayap kanan Pesawat Garuda DC-9 PK-GNT

Lambang Garuda Indonesia lama


Pintu masuk yang tertutup

Bagian depan pesawat  Garuda Indonesia PK-GNT



Pintu bagasi

Moncong pesawat Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT



Penampilan pesawat Garuda Indonesia DC-9 PK-GNT





Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah...
JAS MERAH-Jangan Lupakan Sejarah

     Ditengah majunya industri penerbangan sipil/komersial Indonesia, nampaknya bangsa Indonesia lupa akan sejarah kerdigantaraan mereka. Terbukti dengan terbatasnya literatur atau museum yang khusus membahas sejarah dirgantara Indonesia. Padahal sejarah penerbangan sipil Indonesia juga bertalian erat dengan perjuangan kemerdekaan.

     Kemarin, saya mengunjungi TMII. Saya mengunjungi Museum Transportasi. Tujuan utama saya (tentunya sebagai pecinta dirgantara) adalah melihat pesawat DC-9 milik Garuda Indonesia beregistrasi PK-GNT. Namun sayang, ternyata pesawat hanya dibuka pada hari libur Sabtu dan Minggu.

     Akhirnya, saya memutuskan melihat detil pesawat ini dari luar. Sungguh malang, dibawah temaram langit mendung Jakarta yang suram, pesawat ini tampak sangat menyedihkan dengan badan pesawat yang kotor. Pesawat DC-9 merupakan salah satu armada narrow-body Garuda Indonesia di era 70-80an.

     Saya berniat memasuki Anjungan Udara di Museum Transportasi, namun tiba-tiba hujan turun dengan derasnya hingga memaksa saya berlari menuju mobil. Padahal museum ini memiliki koleksi yang menarik, mulai dari tiket-tiket jadul, seragam awak kabin dari masa ke masa, hingga replika pesawat-pesawat milik maskapai besar dunia.

     Saya mengangankan ada sebuah museum dirgantara terpadu di Indonesia yang khusus menyimpan benda-benda bernilai sejarah dari penerbangan sipil. Kemanakah perginya RI-001 Seulawah? Kemanakah perginya pesawat jet berbadan lebar Indonesia pertama DC-10 PK-GIA? Kemanakah perginya Airbus A300-B4 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit) Garuda Indonesia yang merupakan pesawat berbadan lebar pertama yang hanya diawaki 2 pilot? Jika Anda berangkat melalui terminal 1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Anda dapat melihat di halaman GMF Aero Asia bangkai-bangkai pesawat yang malang. Sebagian masih bisa dikenali sebagai Boeing 747-200 dan DC-10 milik Garuda Indonesia. Saya selalu berkhayal kalau saja pesawat-pesawat tua itu -daripada di scrap dan dijual sebagai besi kiloan- lebih baik diabadikan, diperbaiki eksterior dan interiornya seperti semula -mungkin dengan dicat livery Garuda Indonesian Airways yang berwarna merah dan oranye- serta diletakkan dalam sebuah tempat beratap sehingga terhindar dari kerusakan karena cuaca. Tapi entahlah, siapakah investor yang mau berinvestasi dalam hal ini...
    Semoga harapan saya segera terwujud...

(Terinspirasi setelah membaca Edisi Koleksi Majalah Angkasa: Sejarah Penerbangan Indonesia-Lewat Udara Menyatukan Nusantara)

Wednesday, August 8, 2012

Jalan Menuju Tanah Suci

   Oke deh..setelah selama ini absen posting dan setelah selama ini trip reportku selalu berkisar pada rute Jakarta-Solo atau Solo-Jakarta, pada kesempatan kali ini, aku ingin menuliskan perjalananku menuju ke tanah suci setelah 3 tahun lamanya aku tak pernah menginjakkan kaki disana...

   Perjalanan ini menggunakan maskapai nasional kebanggaaan Indonesia (bahkan dahulu tagline-nya "Bangga Bersamanya") yang mendapatkan rating 4-star dari Skytrax, serta  World's Most Improved Airline di tahun 2010 serta World's Best Regional Airline di tahun 2012. Terakhir kali aku mencicipi rute long-haul (Jakarta-Jeddah-Jakarta) maskapai ini pada tahun 2009 ketika maskapai ini memulai turn around dengan program quantum leap-nya.

Berikut sedikit foto dari perjalananku di tahun 2009 tersebut...

Boeing 747-400 PK-GSI

Disembarking (at King Abdul Aziz Intl)

Immigration queue
   Nah, kini aku akan mengulang perjalanan tersebut serta menilai perubahan yang dilakukan Garuda Indonesia...

ITINERARY DETAILS
Carrier : Garuda Indonesia
Flight    : GA 980
Route   : CGK-JED
Fleet     : Boeing 747-400 PK-GSG
Seat      : 29 C (UPPER DECK)

(Mohon Maaf bila kualitas gambar buruk, lensa kamera butut saya retak ^_^")

AT SHIA (Soekarno-Hatta International Airport)


Terminal 2E Keberangkatan
   Aku tiba di Terminal 2E Keberangkatan sekitar pukul 09.00 pagi. Menurut tiket, ETD (perkiraan waktu keberangkatan GA 980 jam 11.00 namun ketika aku cek di situs Garuda Indonesia, ternyata keberangkatan GA 980 di jadwal ulang menjadi pukul 13.00 WIB.


Dedicated Skyteam and Skyteam to-be Terminal? (kecuali ValuAir)
SHIA 2014
  Tiba di Terminal 2E, aku langsung berkumpul dengan jamaah umrah satu rombongan. Check-In dilakukan oleh petugas travel (by the way Garuda Indonesia punya 4 konter check-in khusus penerbangan ke Jeddah). Akhirnya sekitar pukul 11.30 kami masuk ke Check-in hall. Kemudian dilanjutkan proses imigrasi yang berlangsung cepat dan tertib.





   Setelah proses imigrasi selesai, kami pergi ke mushalla terdekat untuk melaksanakan shalat zuhur dan ashar dengan jama' taqdim serta qashar. Selesai shalat, kami langsung menuju ke gate E7 dan ternyata...GA 980 delay sehingga keberangkatan ditunda menjadi pukul 14.00. Tiba di gate E7 kami segera registrasi ulang dan mendapatkan kompensasi delay berupa makan siang.


Keterangan delay (kelihatan khan lensaku retak)
View from gate E7
Makan Siang sebagai kompensasi delay
   Akhirnya sekitar pukul 13.20 pesawat Boeing 747-400 PK-GSG tiba dari Jeddah...


Boeing 747-400 PK-GSG


   Sekitar pukul 13.45 terdengar pengumuman bahwa keberangkatan GA 980 diundur menjadi pukul 14.30.

BOARDING
   Akhirnya sekira pukul 14.25 terdengar panggilang boarding. Urutan boarding dimulai dari penumpang Executive Class, kemudian penumpang yang membawa lansia dan anak-anak, kemudian penumpang rear row (stiker hijau), middle row (stiker biru), dan front row (stiker merah).




ONBOARD
 Kemudian langsung naik ke upper deck...



    


 Beberapa saat setelah take-off dilakukanlah meal serving pertama (makan siang)





   Rasanya menurutku...
-Salad dengan saus thousand island >> enak
-Nasi putih, semur ayam plus tumis buncis dan tahu >> semurnya standar, tumis buncisnya hambar
-Roti + butter>> standar biasa aja (butternya meleleh)
-Tiramisu >> great! enak banget...


   Setelah meal serving, hadirlah 5 jam siang tanpa akhir yang dihinggapi rasa bosan. Rasa bosan tersebut bisa dihilangkan dengan tidur (tidak disarankan untuk penerbangan dari timur ke barat seperti ini karena bisa menimbulkan jetlag), membaca koran atau inflight magazine, menikmati inflight entertainment atau mungkin membaca al-qur'an atau buku petunjuk ibadah umrah ^_^. Tapi tenang saja, di tengah-tengah rasa jenuh ini akan hadir air mineral dan makanan ringan...
     
   Karena bosan, aku memotret detail kabin Boeing 747-400 yang -menurut kabar yang beredar- akan dikeluarkan dari jajaran armada Garuda setelah Boeing 777-300ER 

  
    Suasana kabin...



   Akhirnya sekitar 2 jam sebelum mendarat pramugari membagikan tisu basah dan hadirlah meal serving yang ditunggu-tunggu...



  Oh ya, sejak meal serving kali ini (hingga penerbangan kembali ke Jakarta), rotinya tidak langsung disediakan di food tray penumpang, namun roti-roti tersebut dibungkus alumunium foil, dipanaskan dengan microwave dan diletakkan di keranjang. Sehingga ketika dihidangkan rotinya masih hangat. Sayangnya main course-nya (nasi goreng ayam) rasanya biasa saja

LANDING
   Akhirnya, sekira pukul 19.20 waktu Saudi, setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam GA 980 tiba di King Abdul Aziz International Airport Jeddah. Pesawat berhenti di Hajj Terminal yang telah direnovasi dan dilengkapi dengan garbarata serta ruang tunggu ber-AC.


Garbarata
  Setelah itu kami naik airport shuttle bus dan menunggu di sebuah ruang tunggu sebelum akhirnya menjalani proses imigrasi. Agenda berikutnya seperti biasa, menuju Madinah Munawwarah atau Madinah Nabawiyyah dengan menggunakan bus AC